Pendapatan usaha mencapai Rp35,20 triliun, ditopang kenaikan harga jual rata-rata batu bara sebesar 18% dan pemulihan produksi pada kuartal III 2026.
ICN News, JAKARTA – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan selama sembilan bulan pertama 2026. Perusahaan tambang batu bara milik negara ini membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,41 triliun hingga 30 September 2026, meningkat 216,39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha PTBA mencapai Rp35,20 triliun, meningkat sekitar 12,36% dibandingkan Januari–September 2025 yang sebesar Rp31,33 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara sebesar 18% secara tahunan (year-on-year/YoY). Penguatan harga jual ini sejalan dengan kenaikan indeks harga batu bara Newcastle sebesar 25% dan ICI-3 sebesar 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menjelaskan bahwa pencapaian tersebut didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III 2026, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional secara disiplin.
PENJUALAN MENCAPAI 32,23 JUTA TON
Dari sisi operasional, PTBA mencatatkan volume produksi batu bara sebesar 34,4 juta ton selama Januari–September 2026. Sementara itu, volume penjualan mencapai 32,23 juta ton dan volume angkutan sebesar 27,07 juta ton.
Meskipun volume penjualan secara tahunan mengalami penurunan sekitar 4%, perusahaan mampu meningkatkan pendapatan melalui optimalisasi harga jual dan strategi pemasaran.
Komposisi penjualan menunjukkan bahwa pasar domestik menyumbang sekitar 52% dari total volume penjualan, sedangkan pasar ekspor berkontribusi sebesar 48%.
Lima negara tujuan ekspor utama PTBA meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar ekspor tetap menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pemasaran batu bara perusahaan.
Dari sisi efisiensi pertambangan, stripping ratio PTBA tercatat sebesar 5,59 kali, lebih rendah dibandingkan 5,98 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.
LABA KOTOR MENINGKAT 103,77%
Peningkatan pendapatan turut mendorong pertumbuhan laba kotor perusahaan. Hingga akhir September 2026, PTBA membukukan laba kotor sebesar Rp7,26 triliun, meningkat 103,77% dibandingkan Rp3,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp27,93 triliun, naik relatif terbatas sekitar 0,62% dibandingkan Rp27,76 triliun pada Januari–September 2025.
Kinerja keuangan juga memperoleh dukungan dari sejumlah faktor lainnya. Penghasilan keuangan meningkat 16% menjadi Rp183,50 miliar, sedangkan biaya keuangan turun 45% menjadi Rp136,52 miliar.
Selain itu, bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama meningkat 75% menjadi Rp581,31 miliar.
Kombinasi peningkatan harga jual batu bara, pengendalian beban pokok pendapatan, penurunan biaya keuangan, serta meningkatnya kontribusi entitas asosiasi menjadi sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan laba PTBA.
TARGET PRODUKSI 49,55 JUTA TON PADA 2026
Memasuki sisa periode 2026, PTBA tetap menargetkan pertumbuhan operasional dengan memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta mempercepat pengembangan infrastruktur logistik.
Untuk keseluruhan tahun 2026, perusahaan menetapkan target produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton, volume penjualan 49,51 juta ton, dan volume angkutan sebesar 41 juta ton.
Adapun target belanja modal atau capital expenditure (capex) ditetapkan sebesar Rp3,64 triliun.
Manajemen juga menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur logistik untuk mendukung kelancaran distribusi dan pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Dengan pencapaian laba bersih Rp4,41 triliun hingga September 2026, PTBA menunjukkan peningkatan profitabilitas yang signifikan di tengah dinamika industri batu bara. Ke depan, kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional, mengoptimalkan harga jual, serta meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi akan menjadi faktor penting dalam mencapai target kinerja sepanjang 2026.
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











