IMIP Akui Industri Hilir Nikel Dapat Tantangan Berat Akibat Dipangkasnya RKAB Nikel

IMIP
Foto dokumentasi IMIP

ICN News – PT Industrial Morowali Park (IMIP) mengaku masih mengkaji dampak pemangkasan kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 terhadap aktivitas  produksi smelter di kawasan industri miliknya.

Saat ini dikawasan IMIP telah berdiri lebih dari 54 pabrik dengan berbagai produk hasil tambang serta perusahaan pendukung. Satu pabrik dengan lainnya saling berkaitan meski berbeda bendera perusahaan sehingga menjadikannya sebagai sebuah kawasan industri logam yang terintegrasi.

Menurut Dedy Kurniawan selaku Media Relations Head IMIP,  pemangkasan RKAB akan menjadi tantangan bagi industry hilir nikel, namun hinggga saat ini dampak terhadap produksi smelter belum dapat dihitung secara pasti.

Menurut Dedy setiap perusahaan dikawasan IMIP memiliki kondisi operasional yang berbeda-beda, sehingga proses observasi dan penilaian masih akan terus dilakukan.IMIP juga akan terus memnatau perkembangan situasi serta akan memfasilitasi jika ada diskusi bersama para tenan untuk menyusun strategi adaptasi terhadap perubahan pasokan bahan baku.

Ditengah situasi yang belum menentu tersebut, sejumlah smelter dikawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dikabarkan mulai mengalami tekanan kinerja akibat terbatasnya pasokan bijih nikel dan melambungnya biaya operasional.

Menurut informasi dari Shanghai Metal Markets (SMM), produksi nikel pig iron (NPI) berkadar tinggi dikawasan IWIP menurun sekitar 10 persen hingga 15 persen, karena beberapa lini produksi mengalami penghentian sementara untuk dilakukan pemeliharaan.

Kondisi tersebut membuat pelaku industri terus mengamati dampak dari kebijakan RAKB terhadap ketersediaan bahan baku dan keberlangsungan operasional smelter nikel di Indonesia.

Sebelum itu, IWIP dikabarkan meminta sejumlah produsen NPI di kawasannya untuk mengurangi produksi pada bulan Juni 2026 agar pasokan listrik smelter aluminium di IWIP dapat terpenuhi.

Sebelumnya, Eramet Indonesia mengungkapkan smelter nikel di IWIP berpotensi kekurangan bijih nikel sekitar 30 juta ton jika revisi RKAB 2026 PT Weda Bay Nickel (WBN) tidak disetujui.

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet menjelaskan konsumsi bijih nikel untuk smelter nikel di kawasan IWIP pada 2025 mencapai 120 juta ton. Dari besaran itu, pada tahun lalu WBN memasok sekitar 42 juta ton bijih nikel.

Lantaran produksi WBN periode 2026 yang hanya disetujui 12 juta ton dan sudah habis, Baudelet memprediksi smelter nikel di kawasan IWIP bakal kekurangan bijih nikel hingga 30 juta ton.

“Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel,” kata Baudelet kepada awak media di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Kamis (4/6/2026).

Baudelet mengungkapkan, jika skenario tersebut terjadi, maka smelter nikel di kawasan IWIP harus mencari bijih dari wilayah lain seperti Pulau Sulawesi. Selain itu, bijih nikel biasanya dipasok dari Filipina.

Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

share this article:

Facebook
X
WhatsApp

Baca Juga

Scroll to Top

“Easy to Read, Crucial to be Khowlegeable”

Menu Pilihan

Kontak Kami

+62 878 7826 0925 (WA)
marketing@cdmione.com