Muatan Tongkang Dipangkas, Biaya Logistik Berpotensi Meningkat dan Stok Batu Bara Bisa Menumpuk
ICN News, Jakarta — Industri batu bara nasional menghadapi tantangan baru di tengah aktivitas produksi yang masih berjalan. Penyusutan debit Sungai Mahakam di Kalimantan Timur mulai mengganggu kelancaran pengangkutan batu bara menggunakan tongkang.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan transportasi sungai. Jika berlangsung lebih lama, gangguan tersebut dapat memengaruhi rantai pasok batu bara mulai dari tambang, stockpile, pelabuhan muat hingga proses transshipment.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengonfirmasi bahwa surutnya Sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara. Penurunan debit air menyebabkan draft tongkang menjadi terbatas sehingga kapal tidak dapat membawa muatan secara maksimal. APBI juga memperingatkan adanya potensi peningkatan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.
Muatan Tongkang Harus Dikurangi
Dampak paling nyata terlihat dari pembatasan muatan tongkang.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda menginstruksikan perusahaan dan pemilik pelabuhan untuk membatasi muatan tongkang batu bara menjadi sekitar 5.500–6.000 ton, dari kondisi normal yang dapat mencapai sekitar 7.000 ton.
Pembatasan tersebut dilakukan demi keselamatan pelayaran karena berkurangnya kedalaman alur sungai meningkatkan risiko tongkang kandas.
Artinya, perusahaan yang sebelumnya dapat mengirim sekitar 7.000 ton dalam satu perjalanan kini harus mengurangi muatannya. Untuk mengangkut volume batu bara yang sama, dibutuhkan lebih banyak perjalanan tongkang.
Konsekuensinya cukup jelas: efisiensi angkutan menurun dan biaya logistik berpotensi meningkat.
ITM Siapkan Langkah Mitigasi
Salah satu perusahaan yang merasakan dampaknya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM).
Manajemen ITM menyampaikan bahwa fenomena El Niño menyebabkan penurunan muka air Sungai Mahakam dan memberikan tantangan terhadap kegiatan pengangkutan batu bara, terutama bagi anak usaha yang berada di Klaster Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
ITM menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi berdasarkan pengalaman menghadapi kondisi serupa pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk melakukan penyesuaian volume muatan batu bara.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utama saat ini bukan kemampuan perusahaan memproduksi batu bara, melainkan bagaimana membawa batu bara tersebut keluar dari wilayah tambang melalui jalur sungai yang mengalami penyusutan debit.
Produksi Tetap Berjalan, Tetapi Distribusi Tertekan
Wakil Menteri ESDM Yuliot juga menegaskan bahwa hambatan pengangkutan batu bara di Kalimantan Timur bukan disebabkan oleh pembatasan produksi.
Masalahnya adalah kondisi sungai yang surut sehingga tongkang tidak dapat bergerak secara optimal.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan adanya perbedaan antara produksi dan pengiriman.
Tambang dapat tetap berproduksi, tetapi apabila batu bara tidak dapat segera diangkut menuju pelabuhan atau titik transshipment, maka stok akan semakin besar di stockpile.
APBI sendiri menyatakan belum dapat memperkirakan secara pasti berapa volume ekspor batu bara yang terdampak akibat surutnya Sungai Mahakam. Namun, asosiasi mengakui kondisi tersebut dapat menghambat kelancaran pemenuhan pasokan dan meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.
Bukan Hanya Mahakam
Persoalan ini juga tidak hanya terjadi di Sungai Mahakam.
APBI menyebut Sungai Mahakam, Sungai Barito dan Sungai Kapuas sama-sama mengalami penurunan debit air yang cukup signifikan. Kondisi tersebut menghambat distribusi batu bara di sejumlah wilayah Kalimantan.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menyampaikan bahwa penyusutan debit Sungai Kapuas dan Mahakam telah mengganggu proses distribusi mulai dari loading hingga transshipment.
Dengan demikian, dampaknya berpotensi meluas dari sekadar keterlambatan perjalanan tongkang menjadi persoalan rantai pasok batu bara secara keseluruhan.
Dampak Terhadap Biaya Logistik
Bagi perusahaan tambang, persoalan terbesar berikutnya adalah biaya.
Ketika kapasitas setiap tongkang harus dikurangi, jumlah perjalanan untuk mengangkut volume yang sama akan meningkat. Jika kondisi berlangsung lama, biaya transportasi, waktu tunggu dan biaya penyimpanan dapat ikut meningkat.
Di sisi lain, penumpukan batu bara di stockpile juga membutuhkan ruang dan biaya tambahan.
Dengan kata lain, sungai yang surut dapat menciptakan tekanan biaya meskipun kegiatan produksi tambang tetap berjalan.
Menunggu Datangnya Musim Hujan
Kondisi Sungai Mahakam saat ini menjadi perhatian karena sungai tersebut merupakan salah satu jalur penting transportasi di Kalimantan Timur.
Kementerian Pekerjaan Umum juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi debit Sungai Mahakam sebagai bagian dari langkah mitigasi dampak kemarau terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi air.
Sementara itu, gangguan serupa di sejumlah sungai Kalimantan diperkirakan baru akan membaik ketika kondisi hidrologis kembali normal dan musim hujan tiba.
Bagi industri batu bara, persoalannya sekarang adalah berapa lama kondisi tersebut berlangsung.
Jika hanya bersifat sementara, perusahaan masih dapat mengatasinya melalui penyesuaian muatan, pengaturan jadwal tongkang dan strategi logistik lainnya.
Namun apabila periode air rendah berlangsung lebih panjang, tekanan terhadap biaya angkut, kapasitas pengiriman, stockpile dan jadwal ekspor dapat semakin besar.
Tantangan Baru Industri Batu Bara
Surutnya Sungai Mahakam memberikan pelajaran penting bahwa daya saing industri batu bara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi dan harga komoditas.
Infrastruktur logistik dan kondisi alam juga menjadi faktor yang sangat menentukan.
Bagi perusahaan tambang yang sangat bergantung pada transportasi sungai, kemampuan melakukan mitigasi menjadi semakin penting.
Di tengah produksi batu bara nasional yang mencapai 423,71 juta ton hingga Juli 2026, gangguan distribusi di jalur sungai utama perlu mendapat perhatian serius.
Sungai Mahakam hari ini bukan hanya persoalan air yang surut.
Bagi industri batu bara, setiap sentimeter penurunan muka air dapat berarti berkurangnya muatan, bertambahnya perjalanan, meningkatnya biaya dan tertundanya pengiriman.
Dan apabila kondisi ini berlanjut, dampaknya akan semakin terasa dari tambang hingga pasar ekspor.
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











