ICN News, Jakarta — PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), emiten nikel yang terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi “Boy” Thohir, kembali menyiapkan aksi korporasi bernilai besar. Perseroan mengalokasikan dana maksimal Rp1,383 triliun untuk membeli kembali sebanyak-banyaknya 1,465 miliar saham MBMA.
Program buyback tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 17 September hingga 16 Desember 2026 melalui Bursa Efek Indonesia, baik secara bertahap maupun sekaligus. Program dapat berakhir lebih cepat apabila jumlah saham yang ditargetkan telah tercapai, dana yang dialokasikan telah habis, atau perseroan memutuskan untuk menghentikannya.
Manajemen menjelaskan, aksi buyback dilakukan di tengah kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan. Tujuannya antara lain untuk menjaga stabilitas harga saham MBMA dan meningkatkan kepercayaan investor, sehingga harga saham perseroan dapat mencerminkan nilai fundamental secara lebih wajar.
Namun, di balik aksi buyback tersebut terdapat cerita yang lebih besar. MBMA sedang memperkuat posisinya sebagai perusahaan yang membangun rantai pasok nikel terintegrasi hingga material baterai kendaraan listrik, mulai dari tambang, pengolahan dan pemurnian, hingga pengembangan fasilitas HPAL.
Produksi Bijih Nikel Melonjak
Dari sisi operasional, kinerja MBMA menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan.
Pada kuartal II 2026, tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menghasilkan 2,9 juta wet metric tonnes (wmt) bijih saprolit, meningkat sekitar 130% secara tahunan.
Produksi bijih limonit juga meningkat 87% YoY menjadi 4,7 juta wmt.
Kenaikan produksi tersebut menjadi salah satu indikator penting karena SCM merupakan sumber pasokan bijih bagi ekosistem pengolahan nikel MBMA.
Tidak hanya volume yang meningkat, margin tunai juga mengalami penguatan. Cash margin bijih saprolit mencapai sekitar US$26,7 per wmt, dibandingkan hanya US$1,0 per wmt pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara cash margin bijih limonit meningkat sekitar 135% menjadi US$10,4 per wmt, meskipun perusahaan menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar.
Produksi Nikel dari Smelter Naik 16%
Kinerja positif juga terlihat pada fasilitas pengolahan.
Pada kuartal II 2026, produksi nikel MBMA dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI), termasuk Low-Grade Nickel Matte (LGNM), mencapai 19.505 ton nikel.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 16% dibandingkan 16.748 ton pada kuartal II 2025.
Di tengah kenaikan biaya bijih, cash margin NPI juga meningkat sekitar 11% YoY menjadi US$1.981 per ton nikel, didukung kenaikan harga jual rata-rata sekitar 28%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa MBMA tidak hanya meningkatkan produksi bijih di hulu, tetapi juga terus mendorong kapasitas pengolahan di sisi hilir.
Pabrik Asam Sulfat Ikut Menguat
Selain bisnis bijih dan smelter, MBMA juga memiliki fasilitas pengolahan asam melalui PT Acid Iron Metal (AIM).
Pada kuartal II 2026, fasilitas tersebut memproduksi sekitar 258.060 ton asam sulfat dan mencatat penjualan sekitar 383.177 ton.
Keberadaan fasilitas ini menjadi bagian dari ekosistem industri yang mendukung pengembangan rantai nilai nikel MBMA.
HPAL 90.000 Ton Nikel per Tahun
Salah satu proyek yang paling dinantikan adalah pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).
Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 90.000 ton nikel per tahun.
Hingga kuartal II 2026, pembangunan proyek HPAL tersebut telah memasuki tahap penyelesaian substansial. MBMA menargetkan produksi perdana Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) pada semester II 2026, sebelum kapasitas produksinya ditingkatkan secara bertahap.
HPAL menjadi bagian penting dalam strategi MBMA untuk memperluas bisnis dari sekadar produksi dan pengolahan bijih nikel menuju rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Perseroan juga menargetkan produksi HGNM sekitar 44.000–48.000 ton dan produksi MHP dari PT ESG sekitar 27.000–30.000 ton.
Kinerja Keuangan Mulai Menguat
Pertumbuhan operasional tersebut berjalan seiring dengan perbaikan kinerja keuangan.
Pada kuartal I 2026, MBMA membukukan pendapatan sekitar Rp7,67 triliun, meningkat 26,3% dibandingkan Rp6,07 triliun pada kuartal I 2025.
Laba kotor mencapai sekitar Rp2,10 triliun, sedangkan EBITDA mencapai Rp2,41 triliun.
Yang cukup menonjol, MBMA membukukan laba bersih Rp504,6 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp57,3 miliar pada kuartal I 2025.
Pada akhir kuartal I 2026, kas MBMA tercatat sekitar Rp5,94 triliun, dengan total aset sekitar Rp67,44 triliun dan ekuitas sekitar Rp41,48 triliun.
Mengapa Buyback Dilakukan Sekarang?
Di tengah ekspansi operasional dan pembangunan proyek hilir, MBMA mengalokasikan hingga Rp1,383 triliun untuk buyback.
Secara resmi, manajemen mengaitkan langkah tersebut dengan kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan serta tujuan menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan kepercayaan investor.
Buyback juga akan mengurangi jumlah saham beredar. Dalam perhitungan proforma MBMA, rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar turun dari sekitar 107,995 miliar saham menjadi 106,530 miliar saham.
Namun, MBMA memperkirakan buyback tersebut tidak menurunkan pendapatan maupun menambah beban pembiayaan perseroan. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dalam perhitungan proforma tetap sekitar US$29,95 juta.
Karena itu, buyback tidak serta-merta dapat diartikan sebagai jaminan kenaikan harga saham. Pergerakan harga saham tetap dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi pasar, harga komoditas, sentimen investor dan berbagai faktor lainnya.
Dari Tambang Menuju Ekosistem Baterai
Perkembangan MBMA memperlihatkan bahwa bisnis perusahaan kini semakin luas.
Dari tambang SCM, MBMA memperoleh bijih saprolit dan limonit. Bijih tersebut kemudian menjadi bagian dari pasokan bagi fasilitas pengolahan.
Di sisi smelter, perusahaan memproduksi NPI dan LGNM. Di sisi lain, fasilitas HPAL diarahkan untuk menghasilkan MHP, yang merupakan salah satu produk antara penting dalam rantai pasok bahan baku baterai.
Dengan demikian, ekspansi MBMA tidak hanya berbicara tentang berapa banyak nikel yang ditambang, tetapi juga tentang seberapa jauh perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut melalui proses pengolahan dan pemurnian.
Rp1,38 Triliun dan Babak Baru MBMA
Dengan dana maksimal Rp1,383 triliun, aksi buyback MBMA menjadi salah satu aksi korporasi penting yang patut diperhatikan.
Namun bersamaan dengan itu, perkembangan produksi menunjukkan bahwa perusahaan juga sedang menjalankan agenda operasional yang agresif: produksi saprolit meningkat 130%, limonit naik 87%, produksi nikel dari fasilitas pengolahan tumbuh 16%, sementara proyek HPAL 90.000 ton per tahun memasuki tahap penyelesaian.
Kombinasi antara peningkatan produksi, penguatan pengolahan, pembangunan HPAL dan aksi buyback membuat perkembangan MBMA menjadi menarik untuk dicermati.
Pada akhirnya, arah MBMA bukan hanya menjadi produsen bijih nikel, tetapi membangun posisi yang semakin terintegrasi dalam rantai nilai nikel dan material baterai.
Dan kini, dengan Rp1,38 triliun disiapkan untuk buyback, pasar kembali mendapat sinyal bahwa MBMA sedang memasuki fase penting dalam perjalanan ekspansi bisnisnya.
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











