ICN News – PT Aneka Tambang (Antam) Tbk mengawali tahun 2025 dengan optimisme tinggi setelah mencatat kinerja operasional yang mengesankan sepanjang tahun 2024. Perusahaan tambang BUMN ini berhasil memacu produksi dan penjualan sejumlah komoditas strategis dan mempercepat proyek hilirisasi mineral yang menjadi agenda nasional. Hasil positif ini diungkapkan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Aneka Tambang Tbk Arianto S Rudjito, dalam paparan kinerja Tahun Buku 2024 pada tanggal 14/4/2025.
Menurut Arianto, strategi diversifikasi dan efisiensi operasional menjadi kunci ketahanan perusahaan di tengah dinamika pasar global. PT Antam Tbk terus menjaga keunggulan operasional dan efisiensi biaya produksi, sehingga mampu mencatatkan optimalisasi kinerja penjualan maupun produksi di tengah dinamika industri saat ini. Pencapaian ini merupakan wujud dari komitmen perusahaan untuk terus menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan, memperkuat daya saing di pasar global maupun dalam negeri, dan memberikan kontribusi terbaik bagi para pemangku kepentingan.
Arianto menjelaskan sepanjang tahun 2024, volume produksi bijih nikel PT Antam mencapai 9,94 juta wet metric ton (wmt), dengan penjualan sebesar 8,34 juta wmt. Sementara produksi feronikel mencapai 20.100 ton nikel dalam feronikel (TNi), dan penjualan sebesar 19.450 TNi. Permintaan kuat dari pasar ekspor seperti China, India, dan Korea Selatan menjadi pendorong utama produksi kedua jenis tambang ini.
Dari sisi komoditas emas, PT Antam Tbk mencatat rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah yaitu mencapai 43,78 ton pada tahun 2024, tumbuh signifikan 68% dibanding penjuakan tahun 2023 yang sebesar 26,13 ton. Pencapaian ini semakin memperkokoh posisi PT Antam sebagai pemimpin pasar logam mulia di dalam negeri.
Sementara itu volume penjualan bauksit PT Antam Tbk tercatat sebesar 736.000 wmt, yang sebagian besar dialokasikan untuk mendukung kebutuhan smelter domestik.
Dari sisi kinerja keuangan, PT Antam Tbk juga mencatat kinerja positif hingga triwulan III 2024. Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi, PT Antam Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 2,23 triliun per 30 September 2024. Lebih detail Arianto menjelaskan, perolehan laba bersih PT Antam Tbk tersebut ditopang pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan, yaitu mencapai Rp 43,2 triliun hingga triwulan III 2024, atau tumbuh 39,8% (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang sebesar Rp 30,9 triliun.
Percepat Realisasi Proyek Hilirisasi Strategis Pada 2025
PT Antam Tbk tidak hanya mencetak kinerja operasional dan kinerja keuangan yang positif selama tahun 2024, PT Antam juga mempercepat pengembangan proyek hilirisasi strategis pada tahun 2025. Salah satu proyek prioritas adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek kerja sama PT Antam dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (PT Inalum) ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2025 dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun. Proyek SGAR ini merupakan bagian penting dari kontribusi PT Antam dalam memperkuat rantai pasok nasional dan menciptakan nilai tambah dari komoditas mineral.
Di sisi lain, PT Antam Tbk juga aktif dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, melalui penyediaan bahan baku baterai seperti nikel dan bauksit. Menurut Arianto, strategi ini sejalan dengan inisiatif Pemerintah dalam mendorong transisi energi dan pembangunan industri bernilai tambah di dalam negeri.
Selain itu pengembangan lini bisnis logam mulia PT Antam Tbk juga terus diperkuat melalui proyek pabrik pemurnian emas (Precious Metal Manufacturing Plant) di Gresik, Jawa Timur. Pabrik ini akan meningkatkan kapasitas pengolahan logam mulia sekaligus memperluas jangkauan pasar, khususnya untuk wilayah Indonesia Timur.
Menurut Arianto pengembangan proyek ini juga menjadi bagian dari kontribusi PT Antam terhadap kebijakan nilai tambah nasional (domestic added value), serta mendukung peningkatan devisa melalui hilirisasi produk logam mulia.
Sementara itu untuk memperkuat rantai nilai di sektor nikel, PT Antam Tbk melalui anak usahanya PT Gag Nikel juga resmi mengakuisisi 30% saham PT Jiu Long Metal Industry (JLMI). Berlokasi di Weda, Maluku Utara, PT JLMI memiliki kapasitas produksi Nickel Pig Iron sebesar 28.000 ton per tahun. Arianto menjelaskan aksi korporasi ini menjadi bagian dari langkah strategis PT Antam untuk menjadi pemain kunci dalam transformasi industri tambang nasional, dari sekadar penambang bahan mentah menjadi pelaku utama hilirisasi dan transisi energi.
Untuk ke depannya, PT Antam Tbk tidak hanya mengejar volume produksi, tapi juga penciptaan nilai tambah dari mineral yang dikelola. Hilirisasi adalah masa depan industri pertambangan Indonesia. Menurut Arianto, PT Antam tidak hanya berorientasi pada volume produksi, namun juga pada penciptaan nilai tambah dari mineral yang dikelola perusahaan tambang ini. Hilirisasi adalah kunci menuju masa depan industri pertambangan Indonesia yang berkelanjutan dan lebih berdaya saing.
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











