Sungai Mahakam Surut, ITM Uji Ketangguhan Operasional

Indo Tambangraya Megah, ITM

Muatan Tongkang Dikurangi, Target Produksi Batu Bara 22,9 Juta Ton Tetap Dibidik

ICN News, Jakarta — PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menghadapi tantangan baru pada semester II 2026. Fenomena El Niño yang menyebabkan penurunan muka air Sungai Mahakam mulai memberikan tekanan terhadap aktivitas pengangkutan batu bara, terutama bagi kegiatan operasional yang bergantung pada jalur sungai tersebut.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat ITM mengubah target produksi batu bara tahun ini. Perseroan tetap membidik produksi pada kisaran 22 juta hingga 22,9 juta ton sepanjang 2026.

Direktur Utama ITM Mulianto mengatakan perusahaan terus menjalankan kegiatan operasional sesuai RKAB yang telah disetujui pemerintah dan berupaya mencapai target tahunan tersebut.

Mahakam Menjadi Tantangan Baru

Penurunan muka air Sungai Mahakam menjadi salah satu perhatian utama ITM memasuki semester II 2026.

Kondisi air yang semakin rendah membuat perusahaan harus melakukan penyesuaian dalam proses pengangkutan batu bara menggunakan tongkang. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko tongkang kandas sekaligus menjaga kelancaran jalur logistik.

ITM melakukan mitigasi dengan mengurangi volume muatan batu bara pada tongkang. Strategi ini memang dapat membuat jumlah batu bara yang diangkut dalam satu perjalanan menjadi lebih rendah, tetapi di sisi lain menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan dan kontinuitas operasional.

Bagi perusahaan batu bara yang menggunakan jalur sungai sebagai bagian penting dari rantai distribusi, kondisi seperti ini bukan persoalan kecil. Penurunan draft sungai dapat berarti muatan lebih sedikit, kebutuhan perjalanan lebih banyak, waktu pengangkutan lebih panjang, dan tekanan terhadap biaya logistik.

Target Produksi Tetap 22–22,9 Juta Ton

Di tengah tantangan tersebut, ITM tetap mempertahankan target produksi 2026 sebesar 22–22,9 juta ton.

Sampai semester I 2026, produksi ITM mencapai sekitar 9,9 juta ton, sedikit lebih rendah dibandingkan 10,4 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, dari sisi penjualan, kinerja perusahaan justru menunjukkan pertumbuhan. Volume penjualan semester I 2026 mencapai 12,3 juta ton, meningkat dari 11,7 juta ton pada semester I 2025.

ITM juga menargetkan produksi sekitar 5,9 juta ton pada kuartal III 2026 untuk mendukung pencapaian target tahunan.

Artinya, semester II menjadi periode yang sangat penting bagi ITM. Perusahaan tidak hanya harus menjaga produktivitas tambang, tetapi juga memastikan batu bara dapat keluar dari area tambang dan sampai ke titik pengiriman secara efisien.

Penjualan Ditargetkan Hingga 27,5 Juta Ton

Selain produksi, ITM menargetkan volume penjualan batu bara sepanjang 2026 mencapai sekitar 26,9–27,5 juta ton.

Pada semester I, penjualan sudah mencapai 12,3 juta ton. Dari total target penjualan 2026, sekitar 67% telah memiliki harga tetap, 24% mengikuti indeks, sedangkan sekitar 9% masih belum terjual.

Posisi tersebut memberikan gambaran bahwa ITM memasuki semester II dengan basis penjualan yang relatif kuat. Tantangannya kemudian adalah bagaimana memastikan volume produksi dan distribusi dapat berjalan sesuai rencana di tengah perubahan kondisi alam.

Belanja Modal untuk Memperkuat Operasi

ITM juga menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$50 juta untuk 2026.

Hingga semester I, realisasi capex telah mencapai sekitar US$21 juta, antara lain digunakan untuk ekspansi pelabuhan yang diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi perusahaan ke depan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi ITM tidak hanya berfokus pada produksi tambang, tetapi juga memperkuat infrastruktur pendukung untuk menjaga kapasitas pengiriman.

Kinerja Keuangan Masih Positif

Di tengah tantangan industri batu bara, ITM masih mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada semester I 2026.

Pendapatan perusahaan mencapai sekitar US$1 miliar, meningkat sekitar 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara laba bersih mencapai sekitar US$110 juta, tumbuh 17% secara tahunan.

Angka tersebut menjadi modal penting bagi ITM untuk menghadapi tantangan operasional pada paruh kedua tahun ini.

Bukan Hanya Persoalan Produksi

Persoalan Sungai Mahakam memperlihatkan bahwa tantangan industri batu bara tidak selalu datang dari harga komoditas atau permintaan pasar.

Faktor alam dan infrastruktur juga dapat menentukan seberapa cepat batu bara dapat dipindahkan dari tambang menuju konsumen.

Dalam kondisi normal, kapasitas angkut tongkang dapat dimaksimalkan. Namun ketika permukaan sungai turun, perusahaan harus menyesuaikan muatan untuk menjaga keselamatan.

Bagi ITM, kondisi tersebut menjadi ujian terhadap fleksibilitas operasional dan kemampuan perusahaan mengelola rantai pasok.

ITM Menghadapi Semester II dengan Strategi Mitigasi

ITM telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi serupa dan kembali menerapkan langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi penurunan muka air Mahakam.

Dengan target produksi tetap berada pada kisaran 22–22,9 juta ton, perusahaan dituntut mampu menjaga keseimbangan antara produksi, pengangkutan, biaya logistik dan kebutuhan pelanggan.

Jika kondisi Mahakam semakin membaik, tekanan terhadap pengangkutan tentu dapat berkurang. Namun jika musim kering berlangsung lebih lama, kemampuan perusahaan mengelola logistik akan menjadi semakin penting.

Bagi ITM, tantangan 2026 bukan hanya bagaimana menggali lebih banyak batu bara, tetapi bagaimana memastikan batu bara tersebut dapat bergerak dari tambang menuju pasar secara aman, efisien dan tepat waktu.

Sungai Mahakam dengan demikian menjadi salah satu faktor penting yang akan ikut menentukan perjalanan operasional ITM hingga akhir 2026.

 

Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

share this article:

Facebook
X
WhatsApp

Baca Juga

Scroll to Top

“Easy to Read, Crucial to be Khowlegeable”

Menu Pilihan

Kontak Kami

+62 878 7826 0925 (WA)
marketing@cdmione.com