DSSA: Raksasa Batu Bara Yang Sedang Bertransformasi Ke Energi Hijau Dan Digital

DSSA, Dian Swastatika Sentosa

Mengelola Lebih dari 900 Juta Ton Cadangan Batu Bara, Produksi 57,2 Juta Ton pada 2025

ICN News, Jakarta — Nama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) semakin menarik perhatian di industri pertambangan nasional. Perusahaan yang merupakan bagian dari kelompok usaha Sinar Mas ini tidak hanya memiliki bisnis batu bara dalam skala besar, tetapi juga tengah mempercepat transformasi bisnis menuju energi baru terbarukan (EBT), infrastruktur digital dan teknologi.

Berdasarkan Laporan Tahunan 2025, DSSA menjalankan empat pilar bisnis utama, yaitu pertambangan, energi baru dan terbarukan, infrastruktur digital dan teknologi, serta bahan kimia.

Namun, sektor pertambangan masih menjadi salah satu kekuatan terbesar DSSA.

Pada 2025, DSSA mencatatkan produksi batu bara sebesar 57,2 juta ton, meningkat 7,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara volume penjualan mencapai 56,7 juta ton, naik 4,4% dibandingkan 2024.

Yang tidak kalah besar adalah basis sumber daya yang dimiliki. Per 31 Desember 2025, aset pertambangan DSSA memiliki cadangan batu bara termal terbukti dan terduga lebih dari 900 juta ton.

Tambang Tersebar di Empat Wilayah

DSSA menjalankan kegiatan pertambangan melalui PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) beserta entitas anaknya, serta PT DSSE Energi Mas Utama dan anak usahanya.

Aset pertambangan tersebut tersebar di sejumlah wilayah strategis, yakni Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Khusus melalui GEMS, terdapat lima kelompok tambang utama dengan total area sekitar 66.204 hektare dan total cadangan sekitar 844 juta ton per 31 Desember 2025.

Salah satu aset terpenting adalah PT Borneo Indobara (BIB) di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. BIB memiliki wilayah sekitar 24.100 hektare dan merupakan salah satu tambang batu bara terbesar dalam kelompok usaha tersebut.

Selain BIB, portofolio GEMS mencakup PT Kuansing Inti Makmur (KIM) dan entitas anaknya di Jambi, PT Barasentosa Lestari (BSL) di Sumatera Selatan, PT Trisula Kencana Sakti (TKS) di Kalimantan Tengah, serta kelompok EMS di Sumatera Selatan dan Sumatera Barat.

Dengan portofolio tersebut, DSSA memiliki posisi yang cukup kuat dalam rantai bisnis batu bara nasional.

BIB Menjadi Salah Satu Aset Strategis

Di antara aset pertambangan tersebut, Borneo Indobara memiliki posisi strategis bagi DSSA.

Laporan Tahunan 2025 DSSA mencatat kepemilikan efektif DSSA pada BIB sebesar sekitar 51% melalui entitas terkait. BIB juga menjadi salah satu kontributor utama kegiatan pertambangan kelompok usaha GEMS.

Menariknya, DSSA tidak hanya mengejar peningkatan produksi. Perusahaan mulai mengubah cara menjalankan kegiatan pertambangan melalui digitalisasi dan elektrifikasi alat tambang.

Dalam perkembangan terbaru, BIB telah menjalankan program elektrifikasi alat tambang dan hingga Mei 2026 telah memobilisasi 176 unit kendaraan listrik dan hybrid.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi DSSA menuju target net zero emission pada periode 2028–2029.

Dari Batu Bara Menuju Energi Terbarukan

Transformasi DSSA semakin terlihat dari ekspansi di sektor energi baru dan terbarukan.

Pada 2026, perusahaan memperkuat portofolio energi terbarukan melalui pengembangan pabrik manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal.

DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, entitas anak First Gen Corporation dari Filipina, untuk mengembangkan portofolio panas bumi di Indonesia dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 MW di enam wilayah.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa DSSA mulai membangun keseimbangan baru antara bisnis batu bara yang selama ini menjadi kekuatan utama dengan bisnis energi bersih yang diproyeksikan semakin penting di masa depan.

Digital Juga Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Transformasi DSSA tidak berhenti pada energi.

Perusahaan juga agresif membangun bisnis infrastruktur digital dan teknologi.

Pada 2025, pendapatan dari segmen infrastruktur digital dan teknologi tumbuh sekitar 47% secara tahunan. Jumlah homepass meningkat 64,1% menjadi 10,5 juta, sementara jumlah pelanggan mencapai 1,9 juta, meningkat 102,9%.

Pada April 2026, merger PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk menjadi MoraRepublic juga memperkuat posisi DSSA di sektor digital.

Entitas hasil merger tersebut memiliki jaringan fiber optik lebih dari 116.000 kilometer dan menempatkan MoraRepublic sebagai salah satu pemain besar dalam bisnis fixed broadband Indonesia.

Di sisi data center, DSSA bersama KIRA SG One Pte. Ltd. juga mempercepat pembangunan Metro Data Center (SMX01) di kawasan CBD Jakarta dengan kapasitas IT Load 18 MW, yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026.

Pendapatan Turun, Tetapi Diversifikasi Dipercepat

Menariknya, transformasi tersebut dilakukan ketika industri batu bara menghadapi normalisasi harga global.

DSSA mencatat pendapatan konsolidasi 2025 sebesar sekitar US$2,791 miliar, turun 7,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, perusahaan berhasil mempertahankan kinerja operasional pertambangan sekaligus meningkatkan kontribusi bisnis non-pertambangan.

Kontribusi infrastruktur digital dan teknologi terhadap pendapatan konsolidasi meningkat dari 4,8% pada 2024 menjadi 7,6% pada 2025.

Artinya, DSSA sedang membangun struktur bisnis yang lebih beragam.

DSSA Tidak Lagi Hanya Bicara Batu Bara

Bagi industri pertambangan nasional, perkembangan DSSA menarik untuk dicermati.

Perusahaan masih memiliki bisnis batu bara dalam skala besar, dengan produksi puluhan juta ton per tahun dan cadangan lebih dari 900 juta ton. Namun, strategi jangka panjangnya mulai bergerak lebih luas: dari batu bara menuju energi terbarukan, digitalisasi pertambangan, data center, konektivitas digital dan teknologi.

Dengan demikian, DSSA dapat dilihat sebagai contoh perusahaan tambang yang sedang berusaha membangun model bisnis baru di tengah perubahan industri energi global.

Bagi sektor batu bara, tantangannya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi dan efisiensi, tetapi juga bagaimana perusahaan pertambangan dapat mempersiapkan sumber pertumbuhan baru ketika transisi energi semakin kuat.

Dan DSSA tampaknya telah mulai mengambil langkah tersebut.

 

Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

share this article:

Facebook
X
WhatsApp

Baca Juga

Scroll to Top

“Easy to Read, Crucial to be Khowlegeable”

Menu Pilihan

Kontak Kami

+62 878 7826 0925 (WA)
marketing@cdmione.com