ICN News – Dalam beberapa tahun terakhir ini konsumsi Lithium ion batteries di Indonesia tampak terus mengalami kenaikan. Dengan cara menjumlah antara produksi dengan impor kemudian dikurangi dengan ekspor dapat diketahui bahwa konsumsi Lithium ion batteries di Indonesia pada tahun 2016 kurang lebih mencapai 3.879 ton, sedikit mengalami penurunan pada tahun 2017, tetapi setelah itu naik terus dan mencapai puncaknya menjadi 7.756 ton pada tahun 2019 pada tahun 2020 naik lagi menjadi 8.016 ton.
Menurut perkiraan ICN NEWS Lithium ion batteries yang dikonsumsi tersebut hampir seluruhnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pada perangkat laptop dan pesawat terbang. Karena jenis Lithium ion batteries yang diimpor ataupun yang diekspor selama ini adalah Lithium ion untuk keperluan laptop dan pesawat terbang.
Perkiraan Konsumsi Lithium Ion Batteries di Indonesia,
2016 – 2024
(Ton)
| Tahun | Produksi | Ekspor | Impor | Konsumsi |
| 2016 | 964 | 689 | 3.595 | 3.879 |
| 2017 | 331 | 60 | 3.479 | 3.750 |
| 2018 | 518 | 65 | 6.109 | 6.562 |
| 2019 | 600 | 65 | 7.221 | 7.756 |
| 2020 | 860 | 308 | 7.464 | 8.016 |
| 2021 | 910 | 371 | 8.518 | 9.205 |
| 2022* | 998 | 392 | 9.749 | 12.468 |
| 2023* | 1.405 | 492 | 11.714 | 14.202 |
| 2024* | 1.614 | 671 | 14.001 | 15.819 |
Diolah oleh ICN NEWS dari berbagai sumber *angka sementara
PABRIK LITHIUM-ION BARU
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik pembangunan pabrik baterai mobil listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Sebab, baterai dapat diekspor ke sejumlah negara yang telah lebih dahulu memproduksi EV. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara mengatakan, pembangunan pabrik komponen utama mobil listrik, salah satunya baterai, lebih penting ketimbang pabrik perakitan EV. Soalnya, Indonesia memiliki bahan baku untuk pembuatan baterai listrik, yakni nikel. Selain itu, beragam komponen mobil listrik dapat diekspor ke pabrik pabrik produsen mobil listrik yang sudah lebih dulu berdiri di luar negeri.
Kalau komponen dibuat di Indonesia bisa supply ke Tesla, Hyundai, Toyota, BMW, Marcedes, segala macam. Itu volumenya jauh lebih besar ketimbang mobilnya. Jadi, itu lebih global oriented kalau komponen yang dibuat di Indonesia. Beberapa perusahaan, seperti LG dan Tesla, sudah berencana membangun pabrik baterai mobil listrik di Indonesia. Ke depan, diharapkan lebih banyak komponen mobil listrik lain, misalnya elektro motor dan inverter, yang bisa dibuat di Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bisa memasok komponen tersebut ke berbagai pabrik mobil listrik lain. “Kami senang saja kalau ada komponen utama dibuat di sini, misal baterainya, elektrok motornya, kemudian inverternya. Ini kan baru baterainya saja.
Senada dengan Kukuh, Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto juga menyambut baik investasi mobil listrik merek apa pun. “Kami menyambut baik merek apa pun yang akan berinvestasi di Indonesia dalam membangun industri otomotif nasional, termasuk baterai mobil listrik dan lain-lain.
Indonesia punya kelebihan dalam pengembangan industri kendaraan listrik, yaitu sebagai produsen terbesar di dunia bahan baku baterai, nikel. Pemerintah merasa hal ini jadi alasan terbesar investor bakal menanam modal di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan pernah menyampaikan Indonesia akan memiliki industri baterai lithium kendaraan listrik pada 2023.
Optimistis Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok industri kendaraan listrik sebab dikatakan punya 85 persen material yang dibutuhkan seperti nikel, bauksit, timah, tembaga, hingga karet. Khusus untuk nikel, Indonesia merupakan negara dengan cadangan terbesar material itu di dunia, sedangkan secara harga Indonesia dapat bersaing dengan menawarkan harga lebih murah dari Australia. Karena melimpahnya sumber daya alam di Indonesia, sejumlah merek otomotif dan teknologi global telah melakukan pendekatan dan berujung investasi menurut pemerintah.
Bahkan produsen otomotif asal Amerika Serikat yang berkonsentrasi pada teknologi dan mobil listrik, Tesla, dikabarkan berniat berinvestasi di Indonesia. Pendiri Tesla Elon Musk juga sempat memuji Indonesia sebagai negara penghasil nikel. Nikel adalah tantangan terbesar untuk produksi massal baterai dengan kemampuan jarak tempuh jauh secara volume besar. Australia dan Kanada telah melakukan hal cukup bagus soal nikel, sementara untuk Indonesia dikatakan ‘great!’
Berdasarkan data dari Geological Survey AS yang, Indonesia adalah produsen terbesar Nikel pada 2019 yakni 345 ribu metric ton. Sedangkan cadangan Nikel di Indonesia dikatakan 21 juta metric ton. Saat ini pemerintah Indonesia sudah memberlakukan pelarangan ekspor bijih (ore) nikel dari dalam negeri mulai 1 Januari 2020. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan pernah mengatakan ingin menjadikan Indonesia pemain utama kendaraan listrik yang menguasai bahan baku sampai produksi baterai serta lokasi basis produksi kendaraan listrik.
MINAT INVESTASI
Setelah pemeritah membuka peluang bagi para pengusaha untuk terjun dalam bidang industri mobil listrik beserta baterainya maka tidak sedikit para pengusaha asing maupun lokal yang tertarik untuk terjun dalam bidang ini. Berikut ini beberapa perusahaan asing yang berminat merencanakan membangun pabrik baterai mobil listrik di Indonesia.
Zhejiang Huayou Cobalt
Perusahaan asal China ini telah berinvestasi di Weda Bay Nickel (WBN), Halmahera, Maluku Utara. Perusahaan-perusahaan ini telah berinvestasi di bidang pembuatan bahan untuk baterai lithium di Indonesia. Chairman Zhejiang Huayou Cobalt, Xuehua Chen, mengapresiasi pemerintah Indonesia yang mengundang dan melibatkan perusahaan asal Tiongkok berkunjung ke Eropa.
Market di Eropa sangat penting untuk produk baterai kendaraan listrik. Kami mendapat dukungan penuh dari semua tingkatan pemerintah Indonesia, dan juga kami mendapatkan dukungan bahan baku yang melimpah. Oleh karena itu kami sebagai salah satu perusahaan terdepan di bidang baterai untuk kendaraan listrik merasa percaya diri akan sukses di Indonesia.
Huayou merupakan salah satu pemain baru utama di bidang industri energi baterai li-ion. Bahkan Huayou telah menguasai pangsa pasar kobalt dunia. Guna mendorong daya saing di industri ini, pihaknya telah memulai di beberapa proyeknya di Indonesia.
Indonesia tak hanya kaya akan laterite ore, bahan material baterai li-ion. Namun juga pemerintah Indonesia sudah menciptakan iklim yang bagus buat bisnis ini. Faktor inilah yang membuat pihaknya optimistis dengan kelangsungan investasi dan proyek-proyeknya di Indonesia di masa depan. China menargetkan perusahaannya akan membangun kawasan industri global terdepan kelas dunia di industri baterai di Indonesia.
Selengkapnya…
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











