ICN News –Dalam suatu konferensi, baik yang bertaraf nasional maupun internasional, diskusi panel adalah salah satu ruh utamanya. Dari diskusi panel inilah, para wakil perusahaan, delegasi dan peserta bersemangat berpartisipasi dan menghadiri di sebuah acara konferensi.
Pada diskusi panel inilah para ahli dan pemangku kepentingan disatukan untuk membahas suatu topik dengan sudut pandang yang berbeda-beda.
Baru-baru ini, konferensi sektor tambang dan metalurgi telah diselenggarakan selama tiga hari (11 – 13 Mei 2026) di Jakarta International Convention Center.
Konferensi itu bertitel Metconnex – Mine Aidic 2026. Penyelenggara berhasil menyatukan dua komunitas bergengsi Ikatan Alumni Teknik Tambang ITB dan Ikatan Alumni Metalurgi ITB. Konferensi ini membahas topik besar mengenai persoalan dunia tambang dan metalurgi secara konfrehensif.
Dalam konferensi itu, juga dibahas beberapa agenda. Pada hari pertama agendanya mengenai Workshop dan Short Course. Pada acara ini para peserta mendapat ilmu dan info yang beragam dari para praktisi sektor tambang dan metalurgi. Pada hari kedua dan ketiga (12 dan 13 Mei 2026) agendanya adalah diskusi panel dengan menghadirkan para narasumber yang berkompeten dibidangnya masing-masing. Topik yang dibahas adalah persoalan pentingnya Hilirisasi. Topik ini menjadi topik yang dominan disamping topik lainnya.
ICN News dan IPO News menyimak dengan serius diskusi panel yang sangat bermanfaat dengan topik bahasan yang beragam dari para narasumber berbobot. Mereka adalah Harry Pancasakti (Vice President Government Relation and Smelter Technical Support PT Freeport Indonesia), Aryo Djojohadikusumo (Presdir Arsari Tambang), Melati Sarnita (Presdir Indonesia Asahan Aluminium), Rachmat Makkasau (Presdir Amman Mineral Nusa Tenggara) dan Ido Hutabarat (CEO PT Arutmin Indonesia).
Diskusi panel ini berjalan menarik, sarat informasi dan komunikatif berkat sang moderator yang memimpin jalannya diskusi ini. Sang moderator yang dimaksud adalah Achmad Ardianto selaku Ketua Ikatan Alumni Teknik Tambang ITB.
Pada diskusi panel ini dihadirkan para narasumber atau para CEO dari perusahaan pemerintah dan perusahaan swasta nasional dan asing.
Tentang hilirisasi sendiri, dari pihak pemerintah pada intinya mendorong peningkatan hilirisasi tambang dan mineral yang bertujuan untuk meningkatkan ekspor bahan mentah, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi kepentingan ekonomi nasional.
Ya. Berbicara soal hilirisasi selalu menarik dan penting. Salah satu faktor penentu dari kemajuan suatu industri, termasuk industri tambang dan metalurgi adalah hilirisasi. Tanpa Hilirisasi, sebuah industri akan statis dan sulit berkembang.
Hilirisasi adalah sebuah keharusan strategis untuk terciptanya kreatifitas yang positif. Dari kreatifitas ini mengubah kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi produk yang bernilai tinggi.
“Langkah ini sangat penting untuk melepaskan ketergan-tungan dari ekspor bahan mentah. Juga, memperkuat daya saing ekonomi, dan menciptakan banyak lapangan kerja baru di dalam negeri,” ujar Achmad Ardianto, Ketua Alumni Teknik Tambang ITB kepada ICN News disela-sela berlangsungnya acara Met connex 2026.
Ya. Banyak orang sepakat pentingnya Hilirisasi. “Jika industri tambang dan metalurgi mau maju dan diperhitungkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka, Hilirisasi sebuah keharusan. Ibarat menu makanan, hilirisasi memang sudah menjadi ‘menu wajib’ bagi para pelaku industri tambang dan mineral,” ujar salah satu peserta Metconnex 2026 yang ditemui ICN News usai makan siang.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang sekaligus juga sebagai Kepala Badan
Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto usai meresmikan dan membuka acara Metconnex 2026 Mine Aidic mengatakan kepada ICN News. “Program hilirisasi di industri tambang dan mineral harus kita dorong. Dengan begitu, penguatan hilirisasi tambang dan mineral di Indonesia menuju ke arah kemajuan yang berarti. Juga, dapat meningkatkan daya saing industri nasional.”
Keharusan program hilirisasi ini berkaitan dengan fakta dilapangan yang hingga kini sumber daya mineral memiliki kekayaan yang diakui oleh kalangan internasional.
Dalam sambutannya, Brian Yuliarto mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya tambang dan mineral yang sangat strategis seperti nikel, tembaga, bauksit, emas, timah, hingga batu bara.
“Namun sayangnya, kekayaan alam itu dihadapkan pada sebuah tantangan. Tantangan terbesar itu adalah bulan hanya mengekspresikan sumber daya alam tersebut, melainkan mengolahnya menjadi produk yang dapat bernilai tambah tinggi”.
Aryo Djojohadikusumo, selaku Presdir Arsari Tambang ikut membahas juga soal hilirisasi. “Indonesia harus mandiri dalam meneliti dan mengembangkan teknologi mineral, termasuk rencana pembangunan pusat riset timah. Ia juga menyoroti pentingnya penciptaan nilai tambah. “Kami sudah melakukan hal ini melalui pabrik solder di Batam,” ujar Aryo Djojohadikusumo.
Disamping dibahas hilirisasi sektor tambang. Pada diskusi panel ini juga dibahas hilirisasi soal Nikel.
Menurut Vinicius Mendes Ferreira, PT Vale Indonesia Tbk sendiri menetapkan hilirisasi nikel sebagai strategi utama dengan fokus pada pembangunan proyek smelter berkelanjutan di Pomalaa (Kolaka), Morowali, dan Sorowako.
“Vale juga berkomitmen menerapkan prinsip “hilirisasi hijau” (berkelanjutan) untuk mendukung ekosistem energi. Vale juga menekankan pada penerapan teknologi yang ramah lingkungan, “ujar Chief of JV Strategy and Nickel Down Streaming Vale Indonesia.
Metconnex 2026 juga mendiskusikan tentang pentingnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) serta digitalisasi operasional di sektor pertambangan dan metalurgi untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja. Dalam konferensi Met connex 2026 ini dibahas juga tentang perkembangan teknologi.
Berkaitan dengan hal ini Boediman Widjaja berbicara kepada ICN News soal teknologi ramah lingkungan. “Buat kami, limbah tak lagi sekedar sampah melainkan menjadi produk hijau bernilai tinggi. Kami mengolahnya menjadi bahan bangunan ramah lingkungan. Dengan mengusung teknologi ramah lingkungan dan semangat inovasi, Kami mengubah wajah industri konstruksi dengan memproduksi dinding panel ringan. Dengan begitu ongkos pembangunan lebih ekonomis dan konstruksi bangunan akan lebih efisien. Konsep ini disambut hangat oleh kalangan industri tambang dan metalurgi,” ujar Boediman kepada ICN News usai berbicara sebagai narasumber dihari terakhir atau hari ketiga konferensi Metconnex2026 Mine Aidic.
Menurut pengamatan ICN News dan IPO News yang meliput acara konferensi Metconnex Mine Aidic 2026 mulai dari hari pertama sampai hari ketiga berlangsung dengan baik dan sukses. Juga, menghasilkan masukan-masukan dan rumusan-rumusan yang bermanfaat bagi dunia tambang dan mineral.
“Kami mewakili panitia dan seluruh pihak yang terlibat didalamnya dalam mewujudkan kesuksesan acara konferensi Metconnex Mine Aidic 2026 ini mengaku merasa puas terhadap acara yang berlangsung selama tiga hari (11 – 13 Mei), meskipun masih ada kekurangannya. Insyaa Allah, acara Met connex 2026 tahun berikutnya akan kami lakukan lebih baik lebih, ujar Achmad Ardianto kepada ICN News dalam bincang-bincang ringan di arena acara.
“Melalui acara ini, kami berkomitmen dan mengukuhkan, bahwa acara Metconnex – Mine Aidic 2026 ini buka sekedar acara gelaran biasa. Tapi, kami juga menawarkan solusi economic system sektor pertambangan dan mineral di Indonesia”, ujarnya.
Gelaran Metconnex – Mine Aidic tahun ini, kita tidak hanya berfokus pada processing technology saja. Tapi, kita juga memulainya dengan fokus yang lebih baik di sektor pertambangan dan mineral secara menyeluruh. Dengan begitu, hasil teknologi yang diharapkan kedepannya menjadi lebih baik dan sempurna. Sehingga, hasil semua kekayaan alam di Indonesia bisa dikerjakan, dihasilkan lebih baik dan lebih bermanfaat lagi. Pada ujungnya, masyarakat pula yang menikmati hasilnya.
Untuk mendapatkan hal itu semua, maka SDM nya harus siap, teknologi yang digunakan lebih tepat dan lebih maju, sistem yang baik, Government yang baik dan hal-hal lainnya yg juga lebih baik, ujar Achmad Ardianto, Ketua Ikatan Alumni Teknik Tambang ITB yang masuk dijajaran panitia konferensi Met connex – Mine Aidic 2026 yang akrab dipanggil Didi.
Apa yang diungkapkan oleh Didi itu dibenarkan oleh Erika Silva. “Kedepannya, gelaran acara Metconnex- Mine Aidic di tahun berikutnya akan lakukan lebih baik dan lebih baik. Banyak masukan yang sangat positif akan gelaran ini. Bahkan, banyak peserta dan delegasi yang minta acara ini digelar setahun sekali. Kami belum menyanggupinya. Mungkin, jika dua tahun sekali, kami bisa menyelenggarakannya acara yang mempertemukan para pelaku kepentingan di sektor tambang dan mineral ini”, ujar Erika yang juga Ketua Ikatan Alumni Teknik Metalurgi ITB ini kepada ICN News saat berakhirnya acara Metconnex- Mine Aidic 2026.
Selengkapnya…
Artikel ini bisa dibaca di Majalah ICN News Edisi April-Mei 2026
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











