Bumi Resources Gandeng Istana Karang Laut Dan CNCEC, Garap Proyek Hilirisasi Batu Bara Rp41,5 Trilliun

Bumi Resources

Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kalimantan Timur ditargetkan memproduksi 2 juta ton per tahun pada tahap awal, dengan potensi memperkuat industri kimia nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor

ICN News, Jakarta — Hilirisasi batu bara Indonesia memasuki babak baru melalui pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek dengan nilai investasi lebih dari US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,5 triliun ini melibatkan PT Bumi Etam Chemical (BEC), PT Istana Karang Laut (IKL), dan perusahaan rekayasa asal China, China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC).

Keterlibatan BEC dalam proyek tersebut juga menempatkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui anak-anak usahanya, PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), dalam salah satu proyek hilirisasi batu bara berskala besar di Indonesia. BEC merupakan perusahaan patungan Arutmin dan KPC yang dibentuk untuk mengembangkan fasilitas produksi metanol berbasis batu bara.

Pada 29 Juli 2026, BEC menandatangani kontrak Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama IKL dan CNCEC. Kesepakatan tersebut menjadi langkah penting dalam persiapan teknis dan pelaksanaan pembangunan fasilitas industri tersebut. Pemerintah mencatat nilai investasi proyek mencapai sekitar US$2,3 miliar.

BUMI, IKL, DAN CNCEC DALAM RANTAI HILIRISASI

Proyek ini memperlihatkan kolaborasi antara perusahaan pertambangan batu bara, mitra industri, dan perusahaan rekayasa internasional. Bagi BUMI, melalui Arutmin dan KPC, pengembangan metanol membuka jalur pemanfaatan batu bara berkalori rendah menjadi produk kimia bernilai tambah.

Sementara itu, keterlibatan Istana Karang Laut dan CNCEC tercantum dalam kerja sama pengembangan proyek, mulai dari tahapan rekayasa hingga kerangka pelaksanaan pengadaan, konstruksi, dan commissioning. Peran konkret setiap pihak tetap perlu dibaca sesuai ruang lingkup kontrak dan pembagian pekerjaan yang disepakati.

Proyek tersebut bukan sekadar rencana. Pada 31 Agustus 2026, BEC melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tahapan ini menandai dimulainya pembangunan fisik proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol.

KAPASITAS AWAL 2 JUTA TON METANOL PER TAHUN

Pada tahap awal, fasilitas ini dirancang untuk menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Untuk mendukung produksi tersebut, proyek diperkirakan membutuhkan sekitar 7,7–7,78 juta ton batu bara berkalori rendah setiap tahun.

Penggunaan batu bara berkalori rendah menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan proyek. Sumber daya yang selama ini lebih terbatas pemanfaatannya dapat diolah melalui teknologi gasifikasi menjadi bahan baku industri kimia.

BEC juga menyampaikan bahwa kapasitas produksi berpotensi dikembangkan secara bertahap hingga 3,6 juta ton metanol per tahun. Namun, kapasitas lanjutan tersebut merupakan rencana pengembangan berikutnya, bukan kapasitas produksi yang sudah terealisasi.

Fasilitas proyek direncanakan mencakup unit gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Pemerintah juga menyebutkan rencana integrasi teknologi pengendalian emisi dan Carbon Capture and Storage (CCS). Target commissioning proyek ini diarahkan pada 2029.

MENGURANGI IMPOR, MEMPERKUAT INDUSTRI KIMIA

Salah satu tujuan utama proyek ini adalah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol. Produk tersebut dibutuhkan oleh berbagai sektor, termasuk industri petrokimia, formaldehida, manufaktur, serta sejumlah rantai industri energi dan turunannya.

Menurut data yang disampaikan pemerintah pada saat pengembangan proyek diumumkan, Indonesia masih mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol pada 2025, dengan nilai sekitar Rp7,1 triliun. Kehadiran fasilitas produksi domestik diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut dan mengurangi pengeluaran devisa.

Meski demikian, besarnya dampak substitusi impor akan bergantung pada realisasi kapasitas produksi, kualitas produk, harga metanol domestik, serta kemampuan fasilitas memenuhi kebutuhan industri pengguna. Karena itu, pencapaian target konstruksi dan commissioning menjadi faktor penting bagi keberhasilan proyek.

INVESTASI BESAR, TANTANGAN PELAKSANAAN

Dengan nilai investasi sekitar Rp41,5 triliun, proyek BEC termasuk pengembangan hilirisasi batu bara yang membutuhkan modal dan teknologi besar. Tantangannya bukan hanya membangun fasilitas, tetapi juga memastikan kesiapan teknologi, kepastian pasokan batu bara, infrastruktur pendukung, efisiensi operasional, serta daya saing metanol yang diproduksi di dalam negeri.

Presiden Direktur BEC Rio Supin sebelumnya menyampaikan bahwa perusahaan belum memiliki rencana hilirisasi batu bara lain di luar proyek metanol ini. Perusahaan akan berfokus pada penyelesaian proyek yang sedang dikembangkan, mengingat kebutuhan investasinya sangat besar. Peluang pengembangan proyek lain, menurut keterangannya, dapat dipertimbangkan kembali setelah proyek tersebut berjalan dan berhasil.

Pernyataan itu penting untuk dicermati di tengah pembicaraan pemerintah mengenai pengembangan produk turunan batu bara lainnya, termasuk bensin sintetis. Keterlibatan BUMI melalui Arutmin dan KPC serta kerja sama IKL dan CNCEC yang telah teridentifikasi saat ini adalah dalam proyek batu bara menjadi metanol. Belum ada konfirmasi yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut juga akan masuk ke proyek bensin dari batu bara.

Ke depan, keberhasilan proyek BEC akan menjadi salah satu tolok ukur penting bagi pengembangan hilirisasi batu bara nasional. Apabila kapasitas produksi, efisiensi, dan target operasi dapat dicapai, proyek ini berpotensi memperkuat pasokan bahan baku industri kimia sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya batu bara Indonesia.

Muslim M. Amin, Editor in Chief

 

Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

share this article:

Facebook
X
WhatsApp

Baca Juga

Scroll to Top

“Easy to Read, Crucial to be Khowlegeable”

Menu Pilihan

Kontak Kami

+62 878 7826 0925 (WA)
marketing@cdmione.com