Penjaminan saham terjadi di tengah transaksi akuisisi saham Bayan Resources oleh perusahaan terafiliasi Haji Isam. Namun, nilai kredit Bank Mandiri yang terkait dengan penjaminan tersebut belum diungkapkan
ICN News, Jakarta — Penjaminan saham dua perusahaan terbuka yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal sebagai Haji Isam, menjadi perhatian pasar keuangan. Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dijaminkan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai agunan atas fasilitas kredit untuk perusahaan terafiliasi.
Berdasarkan estimasi menggunakan harga penutupan saham pada 8 Oktober 2026, nilai pasar saham JARR dan PGUN yang dijaminkan mencapai sekitar Rp73 triliun. Angka tersebut merupakan nilai pasar saham, bukan nilai pinjaman yang diberikan Bank Mandiri. Nilai fasilitas kredit yang sebenarnya belum diungkapkan secara terbuka.
Seluruh Kepemilikan Saham Pengendali Dijaminkan
Pada JARR, PT Eshan Agro Sentosa selaku pemegang saham pengendali menjaminkan sebanyak 7.997.556.204 saham atau sekitar 7,998 miliar saham kepada Bank Mandiri. Jumlah tersebut setara dengan seluruh kepemilikan Eshan Agro Sentosa di JARR.
Sementara itu, pada PGUN, tiga pemegang saham utama yaitu PT Araya Agro Lestari, PT Citra Agro Raya, dan PT Baramega Citra Mulia Persada, menjaminkan total sekitar 5,30 miliar saham. Ketiganya merupakan pemegang saham pengendali yang terafiliasi dengan kelompok usaha Haji Isam.
Berikut gambaran nilai pasar saham yang dijaminkan berdasarkan estimasi analis dengan harga penutupan 8 Oktober 2026.
Estimasi Nilai Pasar Saham JARR dan PGUN yang Dijaminkan
| Emiten | Jumlah saham yang dijaminkan | Estimasi nilai pasar |
| PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) | Sekitar 7,998 miliar saham | Rp24,9 triliun |
| PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) | Sekitar 5,30 miliar saham | Rp48,1 triliun |
| Total | Sekitar 13,30 miliar saham | Rp73,0 triliun |
Sumber: Estimasi analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia berdasarkan harga penutupan saham 8 Oktober 2026.
Besarnya nilai pasar agunan tersebut membuat transaksi ini menarik untuk dicermati. Namun, nilai saham yang dijaminkan dapat berubah mengikuti pergerakan harga di bursa. Karena itu, nilai pasar Rp73 triliun tidak dapat langsung disamakan dengan nilai kredit maupun jumlah utang perusahaan terafiliasi.
Berkaitan dengan Akuisisi Saham Bayan Resources
Penjaminan saham ini menjadi sorotan karena berlangsung di tengah transaksi pembelian saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan batu bara yang dikendalikan pengusaha Low Tuck Kwong. PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terafiliasi dengan Haji Isam, merampungkan transaksi pembelian sekitar 30,25% saham BYAN pada 7 Oktober 2026. Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai Rp26,1 triliun.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa apabila nilai fasilitas kredit diasumsikan setara dengan nilai transaksi akuisisi tersebut, maka nilai pasar saham JARR dan PGUN yang dijaminkan mencapai sekitar 2,8 kali nilai kredit yang diasumsikan. Perhitungan itu merupakan analisis berbasis asumsi, bukan konfirmasi bahwa seluruh akuisisi BYAN dibiayai oleh fasilitas kredit Bank Mandiri dengan agunan saham tersebut.
Dengan demikian, hubungan antara penjaminan saham JARR dan PGUN dengan pembiayaan akuisisi BYAN perlu dibaca secara hati-hati. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa saham tersebut dijaminkan untuk fasilitas kredit bagi pihak terafiliasi, tetapi rincian nilai kredit dan penggunaan dananya secara lengkap belum dipublikasikan.
PGUN Tegaskan Tidak Menerima Dana Kredit
Salah satu hal penting dalam transaksi ini adalah pembedaan antara perusahaan terbuka yang sahamnya dijaminkan dan pihak yang memperoleh fasilitas kredit. Dalam pemberitaan mengenai transaksi tersebut, PGUN menyatakan bahwa perseroan tidak mengambil kredit yang dimaksud, tidak memberikan jaminan perusahaan, serta tidak menerima aliran dana dari fasilitas kredit tersebut. Penjaminan dilakukan oleh pemegang saham atas saham milik mereka sendiri.
Artinya, penjaminan saham milik pemegang saham tidak otomatis berarti PGUN sebagai perusahaan terbuka menjadi debitur atau menerima dana pinjaman. Demikian pula, penjaminan saham tidak dengan sendirinya mengubah pengendalian perusahaan; dampaknya bergantung pada ketentuan jaminan dan apakah agunan tersebut kemudian dieksekusi.
Risiko yang Perlu Dicermati
Dari sudut pandang pembiayaan, saham sebagai agunan memiliki risiko karena harganya dapat berfluktuasi. Apabila harga saham turun cukup tajam, nilai pasar agunan juga berkurang sehingga cakupan jaminan terhadap kewajiban kredit dapat menyusut.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti bahwa hasil perhitungan rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan-to-value atau LTV) dapat meningkat apabila harga saham turun. Berdasarkan skenario yang dibahas analis, LTV dapat mencapai sekitar 65% apabila harga saham menggunakan acuan titik terendah dalam periode 90 hari. Angka tersebut merupakan simulasi risiko, bukan rasio kredit aktual yang telah dikonfirmasi Bank Mandiri.
Selain pergerakan harga, likuiditas saham juga penting. Saham yang sulit diperdagangkan dalam jumlah besar berpotensi membutuhkan waktu lebih lama untuk dijual apabila agunan harus dieksekusi. Kondisi pasar saat eksekusi dapat memengaruhi nilai yang akhirnya diperoleh dari penjualan saham.
Menunggu Keterbukaan Lebih Lanjut
Penjaminan saham JARR dan PGUN dengan estimasi nilai pasar Rp73 triliun menunjukkan besarnya aset saham yang digunakan sebagai agunan dalam fasilitas kredit untuk pihak terafiliasi. Namun, angka tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai jumlah utang Haji Isam ataupun nilai pinjaman Bank Mandiri.
Hal yang masih perlu diperjelas adalah nilai fasilitas kredit yang sebenarnya, struktur pembiayaan, serta hubungan langsung antara fasilitas tersebut dan transaksi akuisisi 30,25% saham BYAN. Informasi tersebut penting agar publik dapat menilai transaksi secara proporsional berdasarkan data yang terverifikasi.
Bagi pelaku industri pertambangan dan investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa transaksi akuisisi berskala besar perlu dicermati bukan hanya dari nilai saham yang dibeli, tetapi juga dari struktur pembiayaan, kualitas agunan, dan risiko apabila harga pasar berubah.
Muslim M. Amin, Editor in Chief
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











