ICN News – Kolaborasi adalah salah satu aktivitas yang banyak manfaatnya dalam mengatasi berbagai persoalan, termasuk persoalan di industri tambang dan metalurgi.
Kebermanfaatan itu disadari penuh oleh Ikatan Alumni Teknik Tambang ITB dan Ikatan Alumni Teknik Metalurgi ITB. Dua komunitas masyarakat cerdas ini menggelar hajatan besar, bergengsi dan sangat penting bagi kemajuan industri tambang dan metalurgi.
Hajatan itu mereka usung dengan tema besar berjudul: Metconnex 2026 – Mine Aidic. Acara Metconnex 2026 berlangsung tiga hari: mulai hari Senin hingga Rabu ini (11-13 Mei 2026). Agenda hari pertama (11 Mei 2026) diisi dengan kegiatan Workshop dan Short Course. Para peserta mendapat berbagai ilmu dan praktek lapangan yang berkaitan dengan dunia tambang dan metalurgi.

Pada hari kedua (12 Mei 2026), diskusi panel secara dominan membahas tentang hilirisasi, termasuk fokus pada percepatan hilirisasi mineral nasional dan penguatan ekosistem industri energi.
Pada hari ini atau hari ketiga (hari penutupan), tanggal 13 Mei 2026, merupakan rangkaian konferensi yang fokus pada hilirisasi industri tambang dan mineral. Pembahasan utama meliputi percepatan transformasi digital pertambangan, inovasi teknologi metalurgi dan hilirisasi logam tanah jarang yang meliputi target strategis.
Dari pihak pemerintah sendiri pada intinya mendorong peningkatan hilirisasi tambang dan mineral yang bertujuan untuk meningkatkan ekspor bahan mentah, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi kepentingan ekonomi nasional.

Ya. Berbicara soal hilirisasi selalu menarik dan penting. Salah satu faktor penentu dari kemajuan suatu industri, termasuk industri tambang dan metalurgi adalah hilirisasi. Tanpa Hilrisasi, sebuah industri akan statis dan sulit berkembang.
Hilirisasi adalah sebuah keharusan strategis untuk terciptanya kreatifitas yang positif. Dari kreatifitas ini mengubah kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi produk yang bernilai tinggi.
“Langkah ini sangat penting untuk melepaskan ketergantungan dari ekspor bahan mentah. Juga, memperkuat daya saing ekonomi, dan menciptakan banyak lapangan kerja baru di dalam negeri,” ujar Achmad Ardianto, Ketua Alumni Teknik Tambang ITB kepada ICN News disela-sela berlangsungnya acara Metconnex 2026 di Jakarta International Convention Center kemarin.
Ya. Banyak orang sepakat pentingnya Hilirisasi. “Jika industri tambang dan metalurgi mau maju dan diperhitungkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka, Hilirisasi sebuah keharusan. Ibarat menu makanan, hilirisasi memang sudah menjadi ‘menu wajib’ bagi para pelaku industri tambang dan mineral”. ujar salah satu peserta Metconnex 2026 yang ditemui ICN News usai makan siang.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang sekaligus juga sebagai Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto usai meresmikan dan membuka acara Metconnex 2026 – Mine Aidic mengatakan kepada ICN News. “Program hilirisasi di industri tambang dan mineral harus kita dorong. Dengan begitu, penguatan hilirisasi tambang dan mineral di Indonesia menuju ke arah kemajuan yang berarti. Juga, dapat meningkatkan daya saing industri nasional.”
Keharusan program hilirisasi ini berkaitan dengan fakta dilapangan yang hingga kini sumber daya mineral memiliki kekayaan yang diakui oleh kalangan internasional.
Dalam sambutannya, Brian Yuliarto mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya tambang dan mineral yang sangat strategis seperti nikel, tembaga, bauksit, emas, timah, hingga batubara.
“Namun sayangnnya, kekayaan alam itu dihadapkan pada sebuah tantangan. Tantangan terbesar itu adalah bukan hanya mengekspresikan sumber daya alam tersebut, melainkan mengolahnya menjadi produk yang dapat bernilai tambah tinggi.”
Aryo Djojohadikusumo, selaku Presdir Arsari Tambang ikut membahas juga soal hilirisasi. “Indonesia harus mandiri dalam meneliti dan mengembangkan teknologi mineral, termasuk rencana pembangunan pusat riset timah. Ia juga menyoroti pentingnya penciptaan nilai tambah. “Kami sudah melakukan hal ini melalui pabrik solder di Batam,” ujar Aryo Djojohadikusumo.
Metconnex 2026 juga mendiskusikan tentang pentingnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) serta digitalisasi operasional di sektor pertambangan dan metalurgi untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja.
Dalam konferensi Metconnex 2026 ini dibahas juga tentang perkembangan teknologi.
Berkaitan dengan hal ini Boediman Widjaja berbicara kepada ICN News soal teknologi ramah lingkungan.
“Buat kami, limbah tak lagi sekedar sampai melainkan menjadi produk hijau bernilai tinggi. Kami mengolahnya menjadi bahan bangunan ramah lingkungan. Dengan mengusung teknologi ramah lingkungan dan semangat inovasi, kami mengubah wajah industri konstruksi dengan memproduksi dinding panel ringan. Dengan begitu, ongkos pembangunan lebih ekonomis dan konstruksi bangunan akan lebih efisien. Konsep ini disambut hangat oleh kalangan industri tambang dan metalurgi,” ujar Boediman kepada ICN News usai berbicara sebagai narasumber dihari terakhir atau hari ketiga konferensi Metconnex 2026 – Mine Aidic.
Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email
Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting











