Sejarah Penemuan Dan Pemakaian Alat Berat

Sejarah Alat Berat

ICN News – Di Amerika Serikat

Sejarah alat berat dimulai pada awal abad ke-19, ketika revolusi industri mulai memperkenalkan mesin-mesin yang membantu pekerjaan manusia. Salah satu tonggak penting dalam sejarah alat berat adalah penemuan excavator uap pertama oleh seorang insinyur asal Amerika, William Otis, pada tahun 1835. Excavator ini, yang juga dikenal sebagai “Otis Steam Shovel”, menggunakan tenaga uap untuk menggali tanah, membuatnya jauh lebih efisien dibandingkan dengan alat manual.

William Otis mematenkan alat ini pada tahun 1839, dan sejak itu, excavator uap menjadi alat revolusioner yang digunakan dalam proyek-proyek besar seperti pembangunan jalur kereta api di Amerika Serikat.

Perkembangan Teknologi Alat Berat dari Masa ke Masa Abad ke-19: Era Tenaga Uap

Setelah excavator uap William Otis, alat berat lain yang menggunakan tenaga uap mulai bermunculan. Misalnya, mesin derek uap dan roller uap yang digunakan untuk proyek konstruksi jalan dan jembatan. Namun, alat-alat ini masih memiliki keterbatasan karena ukurannya yang besar dan kebutuhan bahan bakar uap yang tinggi.

Abad ke-20: Peralihan ke Tenaga Diesel

Pada awal abad ke-20, teknologi alat berat berkembang pesat dengan diperkenalkannya mesin diesel. Alat berat seperti bulldozer, wheel loader, dan dump truck mulai diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Caterpillar dan Komatsu. Mesin diesel membuat alat berat lebih efisien, bertenaga, dan tahan lama.

Masa Depan Alat Berat: Inovasi Tanpa Batas

Perkembangan alat berat tidak berhenti di sini. Inovasi terus dilakukan, seperti pengembangan alat berat listrik ramah lingkungan yang mengurangi emisi karbon. Beberapa perusahaan juga sedang mengembangkan alat berat berbasis energi terbarukan untuk mendukung proyek-proyek berkelanjutan

Di Indonesia

Sejarah penggunaan alat berat di Indonesia dimulai sejak masa kolonial, ketika pemerintah kolonial Belanda memulai berbagai proyek besar seperti pembangunan jalan, pelabuhan, dan bendungan. Pada masa itu, alat berat masih sangat sederhana dan tidak sekompleks yang kita kenal saat ini.

Namun, keberadaan alat-alat ini telah memainkan peran kunci dalam pembangunan infrastruktur yang menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kemudian hari. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu prioritas utama untuk mendukung kegiatan ekonomi dan mobilitas penduduk. Pada 1970-an, Indonesia mulai serius mengembangkan industri alat beratnya sendiri. Salah satu tonggak penting adalah berdirinya PT United Tractors pada 1972 yang menjadi distributor utama untuk berbagai merek alat berat.

Kondisi Pasar Alat Berat Dunia

Menurut Yellow Table, saat ini Caterpillar menempati peringkat pertama sebagai produsen terbesar alat berat dunia dengan nilai penjualan tertinggi. Sementara raksasa alat berat dari China, Sany, turun ke posisi ke-6. Pemeringkatan ini dilakukan berdasarkan data penjualan 50 OEM teratas dunia pada 2023.

Caterpillar kembali menduduki peringkat pertama sebagai produsen alat berat terbesar dunia dalam daftar Yellow Table yang dikeluarkan oleh KHL Group. KHL Group merupakan perusahaan penyedia informasi industri konstruksi dan kelistrikan internasional melalui berbagai platform. Berdasarkan pemeringkatan tersebut, penjualan Caterpillar menempati posisi teratas dari 50 produsen alat berat terkemuka dunia dewasa ini.

Penjualan divisi konstruksi dan sumber daya Caterpillar meningkat dari 37,5 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 41 miliar dolar Amerika Serikat. Secara persentase, Caterpillar mencatatkan total penjualan sebesar 16,8 persen, naik dari 16,3 persen dari tahun sebelumnya. Atau penjualan Caterpillar mengalami peningkatan 0,5 persen.

Peningkatan penjualan produsen asal Amerika Serikat itu tidak mengejutkan, meski mencetak rekor penjualan baru sebesar 242,4 miliar dolar Amerika Serikat. Salah satu alasan terciptanya rekor tersebut karena kinerjanya yang sangat bagus di wilayah Amerika Utara yang juga terbantu oleh berbagai kebijakan pemerintah.

Menurut Off-Highway Research, pada 2023, hampir 330.000 unit mesin konstruksi terjual di wilayah Amerika Utara, naik 8 persen dari penjualan tahun sebelumnya. Sementara di pasar lain di seluruh dunia seperti Eropa, Jepang, dan India juga tetap mengalami pertumbuhan.

Persaingan di top three juga cukup sengit. Produsen yang berbasis di Amerika Serikat, John Deere, naik ke peringkat tiga daftar Yellow Table ini, dari posisi keempat pada tahun sebelumnya. Peningkatan itu tidak terlepas dari kondisi yang begitu kuat di pasar dalam negeri Amerika Serikat. Karena itu, tidak mengejutkan bahwa John Deere merangsek ke peringkat tiga daftar tersebut. Total penjualan John Deere versi Yellow Table adalah 6,1 persen.

Sementara posisi kedua penjualan terbesar versi Yellow Table ditempati Komatsu. Namun, total penjualan produsen asal Jepang itu tertinggal jauh dari jumlah penjualan Caterpillar. Jaraknya hingga 6,4 persen. Komatsu hanya mencatatkan penjualan sebesar 10,4 persen.

Adapun pabrikan yang berbasis di China, XCMG, mengalami penurunan ke peringkat empat. Penjualan mereka tergerus oleh nilai tukar mata uang. Sementara perusahaan China lainnya, Sany, melorot ke peringkat enam Yellow Table. Penurunan dua perusahaan China ini terjadi karena kondisi pasar dalam negeri China yang sedang sulit. Justru yang mengejutkan adalah bahwa dengan kondisi pasar dalam negeri China yang sulit itu, manufaktur-manufaktur negeri Tirai Bambu tersebut tidak jatuh lebih dalam.

Dalam daftar Yellow Table itu, penjualan XCMG yang berada di peringkat empat tercatat 5,3 persen, sedangkan Sany yang menghuni peringkat enam hanya mencatatkan penjualan sebesar 4,2 persen. Untuk Kembali berada di posisi teratas, kedua produsen China itu, dan pabrikan-pabrikan China lainnya, sudah melakukan ekspansi besar-besaran ke pasar di luar China dalam beberapa tahun terakhir.

Sebaliknya, Liebherr mengalami lompatan dua strip dan menghuni peringkat lima daftar Yellow Table ini dengan total penjualan 4,2 persen atau, secara persentase, sama dengan total penjualan Sany. Adapun posisi ketujuh ditempati Volvo Construction Equipment dengan 4,3 persen. Total penjualannya tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Posisi ke-8 dipegang Hitachi Construction Machinery dengan 3,7 persen, diikuti JCB (3,3 persen), dan Doosan Bobcat 3,1 persen.

Di antara produsen-produsen China, yang mengalami penurunan penjualan paling dalam adalah Lovol. Pabrikan ini terjun bebas tujuh peringkat dalam daftar Yellow Table ini. Namun begitu, ada juga kabar gembira dari China. Tiga perusahaan negara itu masuk dalam daftar “Top 50” manufaktur berpendapatan besar versi Yellow Table. Mereka adalah LGMG yang menduduki posisi 34, Tonly (43), dan Sinoboom di posisi paling buncit (50). Khusus Sinoboom yang memproduksi access equipment, produsen ini naik satu peringkat dari posisi 51 pada tahun sebelumnya.

Pada saat bersamaan, manufaktur-manufaktur berbasis di Jepang mengalami penurunan penjualan dari 20,0 persen menjadi 19,9 persen. Penurunan itu tercermin pula pada posisi mereka di daftar Yellow Table. Tahun lalu, tiga posisi terbawah daftar OEM Yellow Table (peringkat 48-50) semuanya berasal dari Jepang. Pada daftar terbaru ini, tiga posisi terbawah sudah diambil alih oleh tiga manufaktur dari China yang sudah disebutkan di atas tadi.

Pada saat bersamaan, manufaktur-manufaktur berbasis di Jepang mengalami penurunan penjualan dari 20,0 persen menjadi 19,9 persen. Penurunan itu tercermin pula pada posisi mereka di daftar Yellow Table. Tahun lalu, tiga posisi terbawah daftar OEM Yellow Table (peringkat 48-50) semuanya berasal dari Jepang.

 

Iklan dan berlangganan bisa hubungi: WA atau Email

Butuh Buku Riset? Silahkan kunjugi CDMI Consulting

share this article:

Facebook
X
WhatsApp

Baca Juga

Scroll to Top

“Easy to Read, Crucial to be Khowlegeable”

Search

Menu Pilihan

Kontak Kami

+62 878 7826 0925 (WA)
marketing@cdmione.com